Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Rinai Hujan

Karya Dyantia *** Sajakku ini untuk engkau yang ku rindu. Ketahuilah bahwa ku tak menyesal, karena ku tahu hidup ini sebuah pilihan. Bisa saja kau marah padaku, tak apa kasih, karena ku yang telah meninggalkanmu. Ku ingin kau tahu, bahwa ketulusanku akan tetap sama. - kutipan 17 Aku suka hujan Karena rinduku dapat menari diantara beribu rinainya Tak mau hanyut karena desah tetes air Jika rindu ini tak lagi menari Membisu tiada balas Kau tetap memenjarakan kata kasih Maka aku tak lagi suka hujan Rinainya mampu menusuk nuraniku Dan hujan akan tambah lebat Menemani air mataku Mampu menghuyungkan ragaku Setiap tetesan air yang jatuh Bukti murkamu padaku Kau tetap memilih diam Tanpa bisa kita perbaiki hubungan kembali Tak keberdayaanku Tertikam dalam nafas Adalah kebebasanmu

Dimensi Muram

Karya Dyantia *** Sesunggahnya keterpurukan ini hanyalah batin yang sedikit luka. Bekasnya tidak begitu parau. Sakit sesaat saat memutar kembali memori itu. Mampu membuat bekasnya semakin parau. Jatuh dalam jurangku sendiri. Adakah penyesalan? tidak ku jawab. Keputusan sudah kubuat, juga harus mampu menggenggam resiko impian. Bicara soal agama, semata-mata mencari ridho-Nya. Tak bisa lagi mengikat dosa, pundak kita tak kan mampu menumpangnya. Ku yakin itu. Komitmen ini hanya halal di atas haram, ketahuilah itu. Ku melepas bukan berarti ku tidak ingin atau menganggap kau tiada dalam ada. Melepas karena ku harus menjaga perasaanku dalam halal-Nya. Konsisten? iya, ketulusan dan kehalusan hati ini akan tetap sama saat kau mengenalku. -kutipan 8 Tak ada diksi cinta atau pun rindu Tapi membacanya Kita yakin ada Dalam intiku Kau telah terbenam Senja telah lalu Petang membawa malam Ilusi dalam dimensi seakan pudar perlahan Kenangan yang tadinya rapi ku susun Beran...

Surat Tersirat untuk Agustus

Karya Dyantia " Hikayatku untuk engkau yang sempat mengisi ruang nuraniku. Dimensi ruangku tidak akan pernah terukur kembali sebelum engkau dapat pergi dan menggenggam kebahagiaan yang baru. Di ujung pintu, terhenti langkahku untuk bisa menemanimu meraih cahaya itu. Kita telah sampai di sini, dan salam pun telah terkunci. Tetapi… ingatlah! Bahwa ada pintu lain yang dapat engkau temui di ruang nuraniku. Ucapkan kembali salam yang telah lama kurindu ." Saat detik detik waktu menjadi detak detak jantung Aku tak mampu menjadi sosok munafik Timbulnya rasa ini tak akan bisa kubendung Saat itu Komitmen kita ikat bersama Tak tersadar halal di atas haram Melepas lebih baik daripada mengikat dosa Pikirkanlah Kita yang dulu sempat bersama Duduk memandang pertunjukkan berdua Berjalan berdua ditemani serpihan kata Tanpa takut apa-apa Dosa telah kita buat bersama Ku teringat Besar pedulimu padaku Hingga takut ku jatuh sakit karena hujan Kamu berlari untuk ku bisa berteduh Tapi aku s...